Silaturahmi & Konsolidasi SK KHDPK
Bersama Dirjen PSK, Muspika, NU, Perhutani, masyarakat, dan petani KTH.
Program Sasaka Patengan berangkat dari pekerjaan yang sudah lama dilakukan masyarakat: merawat kebun, menanam kopi, mengelola hasil, dan membaca peluang jasa lingkungan. Legalitas kemudian memberi ruang agar kerja itu dapat ditata lebih kuat.
Arah program ditentukan oleh kebutuhan nyata anggota dan kondisi kawasan. Tujuannya sederhana: hutan tetap berfungsi, usaha masyarakat berkembang, dan kemampuan kelompok terus meningkat.
Kopi, terong, dan komoditas lain menjadi bagian dari pola agroforestri yang telah lama dikerjakan masyarakat Patengan.
Usaha kopi dikembangkan dari kebun hingga pascapanen, sangrai, penggilingan, dan pengemasan agar nilai tambah tinggal lebih banyak di tingkat anggota.
Melalui KUPS Wisata, anggota mengembangkan bumi perkemahan dan fasilitas pendukung sebagai usaha jasa lingkungan yang bertumpu pada karakter kawasan.
Peralatan, pelatihan, dan bibit unggul digunakan untuk memperkuat keterampilan anggota sekaligus meningkatkan mutu usaha kelompok.
Kopi menjadi salah satu penghasilan penting bagi anggota, dengan produksi biji sekitar 25 ton per tahun.
Setelah kemampuan pengolahan berkembang, anggota tidak lagi hanya bergantung pada penjualan biji ke pengepul. Sebagian hasil diolah menjadi kopi bubuk kemasan dan dipasarkan dengan nama TALAGA COFFE.
Bumi perkemahan lahir dari gagasan anggota muda yang mengenal kawasan sejak kecil. Dengan swadaya, mereka membuka akses, menata parkir, dan membangun fasilitas dasar bagi pengunjung.
Promosi melalui media sosial kemudian membantu memperkenalkan kawasan kepada pengunjung dari Kota dan Kabupaten Bandung.
Ke depan, pengembangan program diarahkan pada enam hal yang saling berkaitan agar manfaat sosial, ekonomi, dan fungsi ekologis kawasan dapat berjalan bersama.
Memastikan masyarakat memiliki ruang untuk mengelola hutan secara bertanggung jawab.
Menata ruang kelola agar batas, fungsi, dan pemanfaatannya semakin jelas.
Memulihkan bagian kawasan yang membutuhkan perbaikan fungsi ekologis.
Menjaga kawasan dari gangguan dan kerusakan yang dapat mengurangi fungsi hutan.
Mengembangkan manfaat kawasan tanpa bergantung pada hasil kayu.
Mengakomodasi kebutuhan yang relevan tanpa mengabaikan fungsi dan ketentuan kawasan.
Program Sasaka tidak hanya hidup di dalam rencana. Sejumlah kegiatan kelembagaan, pemetaan, konservasi, dan edukasi telah menjadi bagian dari perjalanan kelompok.
Bersama Dirjen PSK, Muspika, NU, Perhutani, masyarakat, dan petani KTH.
Bersama petani, LMDH Desa Patengan, dan masyarakat.
Bersama CDK, Pemerintah Kabupaten Bandung, Muspika, NU, mitra/calon mitra, dan petani KTH.
Pemetaan bersama petani, CDK dan LMDH; reboisasi melibatkan petani, Muspika, BKSDA dan LMDH.
Bersama KUPS Rancaupas, petani, dan tamu undangan mancanegara.
Peningkatan pendapatan anggota melalui multi-bisnis: wisata, agroforestri, dan kuliner.
Menjaga area konservasi dan mendorong peningkatan populasi satwa endemik.
Komunikasi aktif antarpetani, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi dengan lembaga dan universitas.
Arah pengembangan mencakup pemantauan kelestarian hutan menggunakan sensor IoT.